Tampilkan postingan dengan label Indonesia City. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia City. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

Kisah Nyata: KETIKA SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX TERKENA TILANG DI PEKALONGAN

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960-an menyambut fajar dengan kabut tipis. Pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas Pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir. Becak dan delman amat dominan masa itu. Persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju ke arahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan di tepi posnya, ayunan tangan ke depan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti di hadapannya. Saat mobil menepi, brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat. "Selamat pagi!" brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna. "Boleh ditunjukan rebuwes!" Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca. Jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes. Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh. "Ada apa pak polisi?" Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah ... sinuwun! (yang mulia)" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna. "Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah! "Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya ke mana.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak. "Ya ... saya salah, kamu benar, saya pasti salah! "Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa. "Jadi ... ?" Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya. "Em ... emm ... Bapak saya tilang, mohon maaf! "Brigadir Royadin heran, sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Raja pun beliau tidak melakukannya. "Baik ... brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal! "Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. "Sungguh orang yang besar!" begitu gumamnya. Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun Pekalongan, brigadir Royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar sedan hitam itu, tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya. Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut, lalu kembali kerumah dengan sepeda abu-abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi Pekalongan. Nama Royadin diteriakkan berkali-kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh-gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor. "Royadin, apa yang kamu lakukan ... sa' enake dewe ... ora mikir ... iki sing mbok tangkep sopo heh ... ngawur ... ngawur!" "Royadin, apa yang kamu lakukan. Seenaknya sendiri, tidak mikir. Ini yang kamu tangkap siapa ha. Ngawur, ngawur!" Komisaris mengumpat dalam bahasa Jawa, di tangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan ke kiri bolak-balik. Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ...memang koppeg (keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi Pekalongan berusaha mencari tahu di mana gerangan sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaan sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari.

Pada akhirnya kepala polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin. Usai mendapat marah, brigadir Royadin bertugas seperti biasa. Satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat. "Royadin ... minggu depan kamu diminta pindah!" lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan Soko. "Siap pak!" Royadin menjawab datar. "Bersama keluargamu semua, dibawa!" pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan selatan, ini hanya merepotkan diri saja. "Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang!" Brigadir Royadin menawar. "Ngawur ... Kamu sanggup bersepeda Pekalongan - Jogja? Pindahmu itu ke Jogja bukan di sini. Sinuwun yang minta kamu pindah tugas ke sana. Pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!" cetus pak komisaris, disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin. Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya: "Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja. Sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya, dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat. "Ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini. "Mohon bapak sampaikan ke sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan. Ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya ! "Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX. Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010, saat penulis mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga di Pekalongan, penulis tak memiliki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak famili yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus kepada penulis selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya. Pangkatnya tak banyak bergeser, terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat-erat yaitu ketegasan dan kejujuran. Hormat amat sangat kepadamu pak Royadin, sang polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari Sabang sampai Merauke.

(sumber:jogjakini.wordpress.com)







Senin, 28 November 2011

Percakapan Profesor dg Mahasiswa

Profesor : "Apakah TUHAN menciptakan segala yang ada?"

Mahasiswa : "Betul, DIA yang menciptakan semuanya"

"TUHAN menciptakan semuanya?" tanya Profesor sekali lagi.

"Ya Pak, semuanya" kata Mahasiswa itu.

Profesor menjawab, "Jika TUHAN menciptakan segalanya, berarti TUHAN menciptakan Kejahatan..."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis Profesor tersebut.

Mahasiswa lain berkata, "Prof, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor.

Mahasiswa : "Prof, apakah DINGIN itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu ? Tentu saja DINGIN itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya Prof, DINGIN itu tidak ada. Menurut hukum Fisika, yang kita anggap Dingin itu adalah Ketiadaan Panas. Suhu -460F adalah Ketiadaan Panas sama es kali dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata DINGIN untuk mendeskripsikan Ketiadaan Panas".

Mahasiswa itu melanjutkan, "Prof, apakah GELAP itu ada ?"

Prof itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Prof. GELAP itu juga tidak ada. GELAP adalah keadaan dimana tidak ada Cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, GELAP tidak. Kita bisa menggunakan Prisma Newton untuk memecahkan cahaya jadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mengukur GELAP. Seberapa GELAP suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas Cahaya ϑi ruangan tersebut. Kata GELAP dipakai manusia untuk mendeskripsikan Ketiadaan Cahaya.."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Prof, apakah Kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang prof itu menjawab, "Tentu saja!"

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Prof. Kejahatan itu TIDAK ADA. Kejahatan adalah ketiadaan TUHAN. Seperti DINGIN atau GELAP, Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan TUHAN. TUHAN tak menciptakan Kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tak adanya TUHAN ϑi hati manusia..."

Prof itu terdiam..
Nama mahasiswa itu Albert Einsten.

Pengumuman Zaman Dahulu

PENGOEMOEMAN!!!

DAG INLANDER,...
..HAJOO URANG MELAJOE,...KOWE MAHU KERDJA???GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN-PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJA AN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:

1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak-pemberontak ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedahdiberantas liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI JANG BERTOEGAS:

1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali
Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer AtmadjajaKowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera, Batam, Soerabaja, Batavia en Riaoeeiland.

Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :
1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3.Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago.

Haastig kalaoe kowe mahoe..
Pertanggal 31 Maart 1889
Niet Laat te Zijn Hoor..
Batavia 1889 Onder de naam van Nederlandsch IndieGovernor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij

(kutipan asli dari koran bertahun 1889 diambil di perpustakaan)

Minggu, 27 November 2011

Kalau Pelatih TIM Nas Indonesia

Kalau Syahrini jadi pelatih Timnas : Aduh mainnya udahan, Alhamdulillah yahh... walaupun kalah, Tapi Garuda Muda sesuatu banget yaaa...

Kalau pelatihnya SBY : Saya hanya bisa prihatin dengan hasil pertandingan kali ini, saya hanya bisa titip pesan buat Titus Bonay dan temannya... LANJUTKAN !! dan ini ada sedikit lagu buat kalian dan bisa kalian dengarkan di album saya... *ngambil gitar*.

Kalau pelatihnya Mario Teguh : Para pemain yang dibahagiakan, walaupun pertandingan yang tidak membahagiakan ini berakhir dengan kekalahan, Tapi kekalahan ini terasa supppeeer sekali.

Kalau pelatihnya Nazaruddin : Saya lupa semuanya siapa aja yang  masukin gol nya, saya lupa semua siapa pemain-pemain saya, team saya mending langsung dihukum aja, saya ngaku kalah, asal keluarga saya jangan di sakiti.

Kalau pelatihnya Fenyy (baca dengan bibir fennyrose) : Appppakah kalian sebegitu sulitnya melabuhkan bola ke dalam peraduan lawan. Mengapa umpan Patrick Wanggai seakan terkoyak jarak dan waktu tak pernah tersampaikan keharibaan Tibo. Tak menyisakan sedikit ruangpun pada jiwa yang lelah barang satu gol pun.  Hanya menyisakan lara merundung menyesakan dada.

Kalau pelatihnya Bang Napi : GOAL terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena adanya kesempatan untuk masukin. Waspadalah !! Waspadalah !!.

Kalau pelatihnya Bondan Winarno : Permainan kali ini terasa kurang Maknyuss, sebagai pelatih saya harus membuat permainan bola kalian lebih Endang Bambang Gurindang lagi.

Kalau pelatihnya Ki Joko : Kalian pemain yang lahirnya senin kliwon, kalian tidak cocok jadi pemain bola, kalian cocoknya hidup di air, buat lebih jelas ketik REG (spasi) KIJOKOBODO kirim ke MBAHMU.

Kalau pelatihnya Roy Suryo : Dari data metadatanya 68 % muka kiper team kita itu ASLINYA memang hasil editan juga, menurut saya kekalahan Indonesia itu Rekayasa. Bisa kita liat dibagian ini juga telah di edit, sehingga gawang Indonesia kebobolan.

Tole dan Nenek

Si Tole mendatangai sebuah WarNet mencari neneknya yang lagi kerajingan main komputer.
Tole     : Nek.... nenek ayoo cepat pulang... Kakek meninggal dunia...!!
Nenek sambil berdiri dari bangku WarNet dan berteriak " Innalillahi.... kapan meninggalnya Cu ? "
Tole     : Barusan aja... ayoo Nek cepet pulang, keluarga sudah pada kumpul semua
Nenek : Kamu  tunggu sebentar ya Cu... nenek mau nulis sebentar di komputer
Tole     : Nulis apa lagi Nek...???
Nenek : Cuma mau buka FB sebentaaaar aja dulu..!!
Tole     : Waduuuh... Ngapain Nenek masih mau Facebook-an padahal semua keluarga menunggu Nenek...!!
Nenek : Sebantar aja Cu...., Nenek mau ubah Status dari "Married" menjadi "Single"
Tole     : Jiiiiaaaahh..... ??????

Minggu, 06 Januari 2008

Jogjakarta Tempo Dulu

Ini gambaran Jogja tempo dulu, masih sangat jarang lalu lalang kendaraan di kota ini, begitu asri dan sejuknya udara Jogja saat itu. Kota Jogja sejak dulu di kenal sebagai kota Gudeg, karena makanan satu ini sangat mudah kita temukan di sudut kota.

Jogja pernah menjadi ibukota pada saat perjuangan kemerdekaan, oleh karenanya kota ini memiliki banyak kenangan bagi pejuang-pejuang kemerdekaan. Kota Jogja juga banyak menyimpan mengenang kenangan yang terlupakan bagi yang pernah memetap, seperti mahasiswa, dan lainya.

Ini pemandangan salah satu sudut kota, yaitu simpang Tugu, hingga saat ini tidak banyak bangunan yang mengalami perubahan dari dahulu hingga saat ini. Simpang Tugu tetap menjadi barometer kota Jogja.

Pada saat ini kota Jogja sudah cukup padat dengan kendaraan hilir mudik kendaraan roda 2 maupun roda 4. Hilir mudik kendaraan di sekitar Jogja menandakan bahwa perekonomian Jogja bertumbuh cukup pesat.

Dengan semakin padatnya kendaraan di Jogja, transpotasi DELMAN tetap menjadi salah satu alternatif transpotasi masyarakat Jogja. Delman berkembang tidak hanya sebagai alat transpotasi, tetapi juga sebagai salah satu alat untuk mengelilingi kota Jogja bagi pelancong Jogja.